3 Hal Mengenai Sanksi Hukum Judi Online Menurut Islam

bandarqq – Dalam Bahasa Arab, judi adalah maysir dimana artinya adalah potongan yang menjadi objek taruhan. Potongan tersebut dikarenakan ketika melakukan permainan judi seolah-olah terdapat potongan yang digagikan kepada para pemainnya.

Pada Al-Quran sendiri, maysir disebutkan dengan arti taruhan dengan menggunakan anak panah yang mana biasa dilakukan oleh orang Arab jahiliyah. Berdasarkan tabi’inmaysir juga dapat berarti segala jenis hal yang ada kaitannya dengan taruhan.

Dalam arti luas, judi sendiri berarti adalah suatu permainan yang di dalamnya terdapat unsur taruhan, yang mana dapat merugikan maupun menjadikan seseorang lalai akan kewajibannya terutama beribadah. Simak sanksi hukum judi online bandarqq menurut islam berikut ini.

1. Merupakan jenis tindak pidana ta’zir 

Perbuatan judi dihukumi dengan tindak pidana ta’zir, yaitu hukuman tindak pidana yang tidak secara tegas diatur oleh Al-Quranmaupun hadist. Inti tujuan dari hukum ta’zir adalah untuk memberikan pengajaran kepada pelaku sehingga akan ada efek jera serta tidak akan mengulangi perbuatan judi kembali, dan juga untuk mengajarkan pada orang lain untuk tidak melakukan hal yang sama dengan para pelaku perjudian.

Hukum ta’zir untuk para pelaku judi berdasarkan ijtihad ulama adalah dengan dipukul, dipenjarakan atau diberi sanksi sosial dengan bentuk penghinaan, yang bertujuan supaya pelaku tersebut tidak akan mengulangi lagi perbuatannya untuk bermain judi.

Meskipun aturan dan ketentuan mengenai judi tidak diatur secara tertulis, seperti berapa lamanya penjara yang dapat diberikan, atau berapa kali pukulan dan menggunakan alat bantu apa untuk menghukum para pelaku judi dan penghinaan seperti apa yang seharusnya dilakukan, namun pemerintah dapat menentukan hukuman dan sanksi tersebut dengan pertimbangan-pertimbangan tiap negara masing-masing.

2. Hukum perjudian dapat ditentukan oleh pemerintahan 

Karena tidak ada aturan tertentu mengenai hukum perjudian dalam Al-Qurandan hadist, maka perkara ini dilimpahkan kepada pemerintahan suatu negara. Adapun hak pemerintah untuk memelihara ketertiban dari segala perkara tindak pidana dan juga menghukumi warganya yang tidak patuh pada aturan yang ditetapkan juga telah diatur dalam Islam.

Di Indonesia sendiri, penanggulangan dan pencegahan tindak pidana perjudian online telah di atur dalam KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) pada pasal 303 dan pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang mengalami perubahan ke dalam Undang-Undang Nomor 19 tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU 19/2016).

Pada pasal 303 ayat (1) KUHP adala diancam dalam kurungan paling lama empat tahun dan denda paling banyak adalah sepuluh juta rupiah. Hal ini berlaku pada permainan judi di mana saja, baik di jalanan umum, di pinggirnya, atau di tempat yang dapat dimasuki khalayak umum.

Pada pasal 25 ayat (2) UU ITE berisikan tentang pidana pelaku pendistribusian atau akses informasi elektronik yang memiliki muatan perjudian yang mana akan dipidana dengan penjara paling lama enam tahun dan denda paling banyak adalah satu miliar rupiah.

3. Sanksi hukum perjudian disejajarkan dengan hukum minum khamar

Pada QS. Al-Maidah ayat 90-91, judi merupakan suatu perbuatan keji yang disejajarkan dengan khamar, karena kerugian yang ditimbulkan yaitu permusuhan dengan orang lain.

Al-Quranmenerangkan bahwa orang yang meminum khamar dan berjudi akan dekat dengan perselisihan dengan orang lain dan kebencian. Ini dikarenakan orang yang bermain judi tentu saja selalu berharap bahwa diri mereka lah yang akan menang dan mendapatkan semua keuntungan. Tidak jarang, rasa iri akan timbul ketika orang lain yang memenangkan permainan judi. Rasa iri tersebut akan menimbulkan kebencian yang mana akan mengantarkan pada tindak pidana lainnya, seperti permusuhan, perkelahian, penganiayaan bahkan tidak jarang dapat kita temui pembunuhan karena kalah judi.

Adapun menurut Madzhab Maliki, Hanafi dan Hanbali, hukuman untuk orang yang meminum khamar adalah 80 kali cambukan. Namun, untuk Madzhab Syafi’i, hukuman untuk peminum khamar adalah cukup 40 kali cambukan saja. Adapun syarat pelaksanaan hukuman adalah jika pelaku mengakui perbuatannya dan juga terdapat dua saksi yang adil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *